Setelah beberapa cerita liburan di Gunung Kidul, Jogjakarta, mulai dari nyobain panjat tebing, menyusuri Gua Senen sampai dengan latihan kopasus di dalam perut Gua Gebyok, kali ini saya mau menceritakan tentang orang-orangnya, siapa lagi kalo bukan tiga pria ajaib yang menemani liburan singkat kemarin. Mereka tergabung di wadah penggiat wisata minat khusus : Katamata Adventure
Perkenalan
dengan mereka sebenernya bisa dianggap sebagai sebuah keberuntungan *atau
kecelakaan yaa? haha*. Waktu itu, selepas tugas kantor tiga hari di kota
Jogjakarta, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kampung halaman
saya di Desa Hargomulyo, Kecamatan Kulon Progo, sementara teman-teman kantor
yang lain kembali pulang ke Jakarta. Praktis ini menjadi solo trip bagi saya.
Merasa masih ada sisa 3 hari sebelum hari senin minggu depan, maka terlintas
pertanyaan di kepala saya : mau kemanaaaaaaaa yaa yang lucu?
Teringat
sebuah gua yang ketika solo trip bulan April lalu ke Jogjakarta belum sempat
didatangi, Gua Cokro namanya. Berbekal paket data, saya pun berselancar di
dunia maya mencoba mencari info bagaimana menuju kesana. Dari sebuah website,
saya tidak sengaja menemukan Gua Gebyok. Disitu dijelaskan bahwa Gua Gebyok
yang masih terletak di Kabupaten Gunung Kidul adalah gua dimana waktu
penelusurannya berkisar antara 8-12 jam. Dahi saya berkerut " gilaaa..
lama bener.. itu dalemnya kayak apa sampai selama itu?" Penasaran, saya
pun merubah niat awal yang semula ingin mengunjungi Gua Cokro berubah menjadi
Gua Gebyok.
Penelusuran
informasi pun dimulai. Agak sulit rupanya mencari orang yang bisa menemani saya
kesana. Sekalinya ada, minimal peserta caving 6 orang. Tidak putus asa, saya
tetap optimis mengunjungi mbah google berkali-kali. Akhirnya penelusuran saya
berhenti di satu nama yang terdapat di sebuah blog pribadi : katamata
adventure. Saya berusaha mencari situs resmi katamata adventure ini
melalui mbah google, tapi yang nongol hanya sebatas fanpage di jejaring
sosial.
Awalnya
sempat ragu, karena fanpage yang saya temukan cenderung sepi posting, tidak ada
foto kegiatan atau postingan lainnya yang menunjukkan kalau mereka trully
exist *belakangan baru saya tau kalau fanpage itu baru dibuat satu
hari sebelum saya temukan* Tapi no problem, dengan rasa optimis saya pun
mencoba mengirimkan private message. Alhamdulillah.. meskipun percakapan
berlangsung datar di dalam inbox, tetapi mereka tidak keberatan mengantar
meskipun saya hanya seorang diri. Janji kopi darat pun dibuat.
Sore itu,
setelah perjalanan beberapa jam dari kampung halaman, saya tiba di Alun-alun
Wonosari sebagai tempat yang dijanjikan untuk kopi darat. Sambil menyaksikan
sekelompok orang yang sibuk berolahraga di lapangan alun-alun, saya berusaha
menghidupkan kembali badguy alarm saya sebelum saya berjumpa dengan mereka
-yang notabene tidak pernah saya kenal sebelumnya. Maklum, perjalanan seorang
diri yang kerap saya lakukan memaksa saya untuk melatih insting alami dalam
mengenali siapa saja yang berpotensi negatif.
Tidak lama
berselang, satu buah motor berhenti di depan saya. Dua orang pria yang berkaus
hitam dengan tulisan Katamata Adventure menghampiri saya "mbak putri
ya?" Dan perkenalan pun terjadi, mas Agus dan mas Wasesa namanya. Tanpa
buang waktu, perjalanan berlanjut menuju Pantai Siung yang akan menjadi starting
poin ke Gua Gebyok.
Saya sempat
tidak percaya ketika menemukan diri saya melaju di atas motor pada sebuah
jalanan yang kanan kirinya hutan jati yang super sepi dan gelap bersama
orang-orang yang baru saya kenal 1 jam yang lalu! Tapi saya bisa bernafas lega
karena saya bisa merasakan kalau alarm bad guy saya tidak berbunyi, seolah tau
bahwa mereka bukan orang seperti yang sering diberitakan di
televisi. Namun saat itu, ada alarm lain yang berbunyi yang belakangan
saya baru sadar bahwa itu adalah alarm bully-guy hahaha.
Suasana
perkenalan yang datar berubah menjadi ajang bully yang sengit antara saya dan
tiga orang pria ajaib ini seiring waktu yang kami habiskan di Sekitar Pantai
Siung. Salah satu bully-an mereka yang cukup dasyat adalah dengan menceritakan
tempat-tempat menarik di sekitar Pantai Siung dengan ekspresi muka yang heboh
sambil menunjukkan foto-foto kegiatan alam yang mereka lakukan. Intinya
berusaha meracuni saya untuk extend sampai hari senin demi melihat pagelaran
seni topeng yang akan digelar di desa ini *dan mereka berhasil haha.
Sebagai
balasan, maka setiap pagi saya membully mereka dengan menjungkirbalikkan
hammock yang mereka pakai sambil berteriak kencang : banguuuuuuuuuuuuuun..
katanya mau tiduuuuurrrr! It was actually one of my favorite time hihi.
Jangan
khawatir, meskipun mereka jago nge-bully, tapi soal keahlian, jangan diragukan.
Segala macam peralatan standart caving yang mereka bawa untuk menemani kita
menyusuri perut bumi seolah menjadi bukti bahwa our safety is their main concern.
Ketiadaaan sinyal di Pantai Siung adalah salah satu faktor yang membuat saya bisa mengenal mereka lebih dekat. Dengan tidak berfungsinya handphone otomatis membuat kami terlibat dengan banyak percakapan.
Salah satu kegiatan favorite saya adalah hammock talk di malam hari. Di situ, dari hammock kami masing-masing, ditemani langit yang penuh bintang dan suara ombak, kami saling bertukar cerita tentang apa saja sambil sesekali menyeruput kopi buatan bude Idho. Cerita tentang perjuangan mereka merintis Katamata Adventure, perjuangan mengenalkan wisata karst dengan cita-cita mulia di balik itu, cerita tentang keluarga masing-masing sampai dongeng tentang pengembara dan dewi salju.
Ketiadaaan sinyal di Pantai Siung adalah salah satu faktor yang membuat saya bisa mengenal mereka lebih dekat. Dengan tidak berfungsinya handphone otomatis membuat kami terlibat dengan banyak percakapan.
Salah satu kegiatan favorite saya adalah hammock talk di malam hari. Di situ, dari hammock kami masing-masing, ditemani langit yang penuh bintang dan suara ombak, kami saling bertukar cerita tentang apa saja sambil sesekali menyeruput kopi buatan bude Idho. Cerita tentang perjuangan mereka merintis Katamata Adventure, perjuangan mengenalkan wisata karst dengan cita-cita mulia di balik itu, cerita tentang keluarga masing-masing sampai dongeng tentang pengembara dan dewi salju.
Bareng
mereka itu beneran such
a great time. Banyak
pelajaran moral yang bisa diambil dari 4 hari 3 malam bersama mereka. Bagi
saya, mereka itu lebih dari
sekedar guide. Saya
merasa mereka seperti sahabat sekaligus kakak laki-laki yang meskipun jail dan usil tapi deep down inside mereka
sebenarnya perduli.
sumber aslinya mana??
BalasHapus