Saat ini, Indonesia tengah berbenah untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan berkehidupan dinamis. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari promosi kesehatan, penyebaran pamflet, hingga beragam iklan yang menyajikan topik hidup sehat selalu bermunculan di media informasi. Tak cukup sampai disitu,program-program kerja pemerintah untuk menyehatkan bangsa jugadiaplikasikan dengan adanya JAMKESMAS, maupun program lainnya.Dalam peringatan hari Kesehatan Nasional yang diperingati tanggal 12 November 2011 kemarin, beragam isu kesehatan, mulai dari isu dalam lingkup kecil hingga ke lingkup yang lebih kompleks dibahas dan sedang “berusaha” dipecahkan oleh pemerintah. Namun, sudahkahsemua itu mencapai usaha maksimal untuk mencapai kehidupan yang sehat dan sejahtera?Salah satu yang dibahas secara intensif adalah mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kesehatan (RPJM-K) tahun 2010 – 2014. Program yang sedang “digodok” pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat adalah bagaimanana memperpanjang Umur Harapan Hidup (UHH) dan menurunkan lagi Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI) dan prevensi gizi kurang untuk mencapai target nasional serta pemantapan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan/pengembangan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) seperti Desa Siaga dan pemantapan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) dengan prioritas bagi seluruh masyarakat miskin. (www.waspada.co.id)Untuk mencapai hal di atas, saat ini ada 3 (tiga) persoalan besar bidang kesehatan, dimana salah satunya berkaitan dengan aspek perilaku yang ditandai dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat dan peran sertanya dalam pembangunan kesehatan. Hal ini ditujukan dengan lambatnya kemajuan peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan rumah tangga, tatanan pendidikan, tatanan tempat kerja, tatanan tempat umum dan tatanan institusi kesehatan. (www.waspada.co.id)Tujuan pemerintah untuk menyehatkan bangsa kiranya masih “jalan di tempat” jika kesadaran hidup sehat dalam masyarakat sendiri tidak menunjukkan antusiasme. Bagaimana program kerja pemerintah bisa sukses jika hanya pemerintah yang melakukan beragam upaya kesehatan? Negara ini dibangun dari struktur pemerintah dan rakyatnya, maka untuk mencapai suatu tujuan bersama, diperlukan adanyabalanceantara program kerja dan upaya pemerintah dengan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.Namun, seperti yang kita ketahui bersama, potret pendidikan kesehatan dan kesadaran pola hidup sehat masih sangat rendah dalam masyarakat. Jangankan kesadaran hidup sehat untuk anak, perilaku orang dewasa saja seringkali tidak menunjukkan bagaimana pola hidup sehat yang benar. Bagaimana tidak, di depan umum mereka sering makan dari kedai yang tidak higienis, merokok, bahkan yang paling parah adalah merusakbanneratau papan iklan yang bertemakan kesehatan. Dan pada lingkup terkecil pun, yaitu keluarga seringkali mengabaikan pendidikan hidup sehat untuk anggota keluarganya, padahal, sesuatu yang komplek terlebih dahulu tersusun dari hal yang kecil.Kesehatan suatu bangsa kiranya bukan hannya kebutuhan dari “peran” pemerintah, tapi juga kebutuhan masyarakat itu sendiri. Dengan hidup sehat, kita akan lebih “hemat” karena menjaga kesehatan jauh lebih murah daripada mengobati penyakit. Hal ini dapat menjadi tonggak utama pencapaian kesejahteraan agar terwujud Indonesia yang berbangsa sehat dan berbudi luhur.Meraih kesejahteraan masyarakat dengan kesehatan kiranya lebih baik dengan usaha preventif, bukan rehabilitatif. Slogan yang sudah menjamur di masyarakat “mencegah lebih baik daripada mengobati” sebaiknya jangan hanya menjadi pelengkap pengetahuan kesehatan, namun juga diperlukan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Entah mengapa, kesadaran masyarakat akan berharganya nilai “sehat” baru akan begitu dijunjung tinggi ketika sudah ada penyakit yang “datang” atau sekedar “mampir”. Padahal, peluang untuk mencegah penyakit bukanlah cara sulit jika kita bisa menemukan kuncinya, yaitu membiasakan pola hidup sehat dan teratur.Hidup sehat pun akan lebih baik jika langkah dantahap-tahap pencapaiannya melalui cara “alami”, dimana hidup dimulai dengan kesadaran akan pentingnya pendidikan pola hidup sehat dan menghindari konsumsi obat-obatan untuk menunjang daya tahan tubuh. Banyak cara maupun sarana yang dapat dijadikan jembatan dan menghilangkan beragam alasan yang ada di masyarakat berkaitan dengan masih sulitnya menjaga kesehatan dengan cara alami atau herbal. Karena bagaimanapun juga, sesuatu yang alami akan berdampak lebih ramah bagi tubuh, maupun lingkungan sekitar.Perlukah adanya pendidikan hidup sehat dalam keluarga? Tentu saja hal tersebut tidak lagi menjadi pertanyaan jika kita mampu melihat kesehatan dari beragam aspek. Kita tidak bisa semerta-merta menyalahkan pemerintah jika terdapat ancaman kesehatan atau penyakit dalam masyarakat, karena masyarakat bukanlah ‘bayi besar’ yang haus akan suapan-suapan kecil dari induknya. Sudah saatnya masyarakat proaktif dalam rangka peningkatan mutu kesehatan yang dimulai dari lingkup terkecil. Oleh karena itu, hal yang paling perlu dibenahi adalah bagaimana cara menyadarkanmasyarakat agar mau merapkan pendidikan hidup sehat dan merealisasikannya dalam kehidupan.Sekali lagi, masyarakat diharapkan untuk berpastisipasi dengan menyadari pentingnya pendidikan hidup sehat, minimal dari dirinya sendiri dan keluarga. Pertanyaannya, bagaimana cara mendidik keluarga untuk hidup sehat? Berikut langkah-langkahnya:1.Biasakan keluarga untuk mencuci tangan memakai sabunMencuci tangan menggunakan sabun mampu mencegah penyebaran penyakit diare dan kolera, serta menghidari masuknya telur cacing saat memegang makanan, terutama untuk anak-anak. Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, menunjukkan penyebab kematian bayi usia 29 hari sampai 11 bulan, terbanyak (55,2%) karena penyakit diare yang dapat dicegah dengan intervensi lingkungan dan perilaku. Begitu pula proporsi penyebab kematian pada anak usia 4-11 tahun, yaitu diare (25,4%) dan pneumonia (15,5%).Begitu banyak manfaat mencuci tangan menggunakan sabun yang selama ini sering diabaikan olehanak-anak, namun tak menutup kemungkinan juga orang dewasa. Oleh karena itu, berikan informasi selengkap-lengkapnya kepada keluarga tentang pentingnya mencuci tangan dengan sabun dan ajarkan pula untuk tidak menyentuh makanan yang berhubungan langsung dengan udara luar.2.Hindarikebiasaan yang burukKebiasaan yang kurang baik dapat menyebabkan kita terkena penyakit. Seperti kebiasaan merokok, miras (minuman keras), obat-obatan, dll. Hal tersebut dapat menyebabkan mudahnya penyakit menyerang sistem kekebalan tubuh kita. Tak hanya itu saja, kita juga dapat terkena dampaknya yang lain seperti mudah pikun, malas, pemarah, dll. Untuk itu usahakan menghindari kebiasaan-kebiasaan yang bodoh tersebut. Namun, kebiasaan itupun harus ditunjang dengan teguran dan koreksi dari pihak keluarga sehingga dalam lingkungan keluarga tercipta suasana yang nyaman, kondusif, dan bebas dari pengaruh bahan kimia yang tidak berguna, apalagi berbahaya. Tidak mungkin salah seorang anggota keluarga mampu terhindardari kebiasaan buruknya jika anggota keluarga yang lain masih acuh pada perilaku anggota keluarga yang lain.3.Menjaga kebersihan dan olahraga teraturKebersihan diri sendiri perlu diperhatikan dan dijaga dengan baik karena terkait dab berkaitan erat dengan penampilan kita di masyarakat umum. Ajarkan keluarga untuk menghindari bertukar peralatan mandi, peralatanmake up, maupun pakaian pribadi dengan orang lain walaupun masih dalam satu keluarga karena mungkin dapat menularkan penyakit yang berbahaya. Kebersihan diri pastilah berhubungan dengan keadaan lingkungan, olehkarena itu manfaatkan hari Minggu untuk membersihkan dan merawat lingkungan rumah. Jangan pula melewatkangreen projectuntuk menyegarkan udara yang dihirup keluarga dengan penghijauan.Berolah raga secara teratur dapat memacu jantung, pernafasan dan peredaran darah menjadi lebih baik. Biasakan berolah raga setiap hari dengan kegiatan yang ringan seperti berjalan kaki, senam, fitnes, jogging, bersepeda, atau melakukan olah raga penuh seperti main badminton, sepak bola, lari maraton, tenis, bola basket, dan lain sebagainya. Hindari pula tidur setelah makan karena akan mengganggu sistem pencernaan.Dari beberapa uraian di atas, semakin jelas bahwa Indonesia sebenarnya masih berkesempatan untuk menciptakan suasana masyarakat yang sehat, dinamis dansejahtera dengan adanya keseimbangan antara pemerintah dan aspirasi serta partisipasi masyarakat. Kita tidak bisa memvonis salah satu pihak gagal dalam usaha menyehatkan bangsa, jika pihak yang lain belum bisa dikatakan optimal dalam upaya pencapaian hidup sehat untuk Indonesia. Pun, jika kita memiliki hidup yang sehat, bukan hanya keluarga yang akan terhindar dari beragam problema kesehatan, tapi juga masyarakat luas dan Indonesia pada umumnya. Jadi mulai sekarang, bukalah pikiran lebar-lebar agar kita mau me ndukung program kerja pemerintah tentang kesehatan penduduknya dan berperan aktif di dalamnya. Sehat bukan hanya milik perseorangan, tapi sehat adalah milik kita bersama.
Senin, 14 Desember 2015
Presiden Tanpa PemudaGarin Nugroho
Bulan Agustus 2014 saya memberi catatan khusus dalam kolom ini tentang nilai penting bicara tentang pemuda, mengingat postur penduduk Indonesia usia produktif (15-35 tahun) mencapai lebih dari 60 persen.Kenyataan lain menunjukkan bahwa 50 persen lebih penduduk yang bekerja menanggung beban separuh lainnya, sementara kualitas tenaga kerja Indonesia lebih dari 50 persen didominasi lulusan sekolah dasar. Bisa ditebak, kualitas tenaga kerja Indonesia di bawah tetangga utama di ASEAN, dari Singapura, Malaysia, Filipina, hingga Thailand.Oleh karena itu, sungguh menyedihkan, di tengah situasi perayaan Sumpah Pemuda yang berlanjut dengan Hari Pahlawan, tidak cukup hadir komunikasi panduan kebangsaan dari Presiden atau juru komunikasi Presiden dan elite politik untuk merenungi pemuda dan masalahnya.Perayaan Sumpah Pemuda kali ini terasa adem-ayem. Yang mencolok adalah berita demonstrasi perburuhan dan peledakan bom, disusul kemudian berita tentang tenaga kerja Tiongkok, perbatasan yang diklaim Tiongkok, atau juga kritik tentang isupenyatuan beberapa BUMN untuk mendukung investasi Tiongkok, sebuah strategi yang dikritik jungkir balik bagai menggadaikan bangsa, demikian juga tentang Freeport yang diberi komentar saling berlawanan oleh pembantu Presiden.Dengan kata lain, pasca setahun pemerintahan, jargon kerja Presiden yang pragmatis dihadapkan dengan kenyataan kekuatan ekonomi dan politik dua raksasa dunia: Amerika dan Tiongkok di tengah ledakan jumlah penduduk muda Indonesia yang kualitasnya di bawah negara-negara ASEAN.Harap mafhum, masyarakat sipil menuntut panduan sikap kebangsaan berbasis filosofibangsa untuk menghilangkan beragam kekhawatiran. Sebutlah, panduan kebangsaan arah serta strategi politik luar negeri di tengah persaingan Amerika, Jepang, India, hingga Tiongkok. Atau juga, panduan kebangsaan perlindungan tenaga kerja lokal ketika tenaga kerja Tiongkok menyerbu dari tingkat manajemen hingga buruh. Bahkan, panduan kebangsaan berkaitnilai Sumpah Pemuda, seperti bahasa Indonesia yang dikeluhkan tidak diberi dukungan strategi kebangsaan yang kuat di tengah kualitas hidupnya yang kehilangan daya tumbuh.Dalam sebuah diskusi terbatas aktivis budaya dan politik, terbaca sebuah kejengkelan: ”Pemerintahan sekarang dengan jargon kerja yang pragmatis, meski diakui menunjukkan nilai kerja, mulai kehilangan panduan nilai kebangsaan. Pemerintahan hingga DPR bahkan polisi dan militer terasa cenderung terpisah dari rakyat. Elite politik dan aktivis yang masuk pemerintahan sibuk dengan proyek, program, dan targetnya sendiri, terlupa dan gagal mengajak pemimpin nonformal di masyarakat sipil di berbagai profesi untuk berpartisipasi. Akibatnya, semua berjalan sendiri-sendiri untuksurvival, baik birokrasi yang berusaha memenuhi segalanya yang serba kelebihan target, demikian juga atmosfer kritik, demonstrasi, terlebih rakyat yang dibebani harga yang serba naik. Anehnya, staf komunikasi Presiden tidak juga memunculkan kemampuan memandu rakyat untuk memberi arah strategi berbangsa.Haruslah diakui, pemerintahan Jokowi enambulan terakhir dengan jurus kerja yang pragmatis, mampu memandu harapan rakyat, terlebih dengan cerdik Jokowi menggerakkan program populer merakyat, dari kereta api, bendungan, sepak bola, hingga kapal laut dalam negeri. Namun, sebagai sebuah bangsa, pragmatisme jargon kerja ternyata tidaklah cukup. Warga bangsa akan mulai khawatir ketika merasakan kehilangan panduan politik makro yang menyangkut prinsip filosofi sendi-sendi berbangsa berkait dengan gagasan dasar pertahanan ekonomi, pertahanan tenaga kerja, agama hingga bahasa maupun mental berbangsa.Harus diingat, momentum Sumpah Pemuda ataupun Hari Pahlawan menunjukkan sejarah tentang pragmatisme kerja pemuda membangun negara dalam keindahan spirit kebangsaan. Agaknya, ini menjadi PR staf komunikasi Presiden dan elite politik pasca setahun Presiden Jokowi.
MEA : Siapa Takut?
Tak terasa kita sudah berada di bulan Desember tahun 2015, itu berarti bulan depan sudah memasuki tahun 2016. Tahun yang menandai diberlakukannya eraMasyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau yang biasa disebut pasar bebas kawasan Asia Tenggara.Negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan menjadikan sebuah kawasan yangterintegrasi dalam kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan tenaga kerja menjadi tidak ada hambatan dari satu negara ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.Indonesia sebagai salah satu Negara di Asia Tenggara mau tidak mau juga akan terlibat aktif dalam era persaingan bebas ini. Indonesia dengan jumlah penduduk hampir 250 juta jiwa akan menjadi pangsa pasar yang strategis lantaran jumlah penduduknya yang besar. Dengan jumlah penduduk yang berlimpah, ini berarti kita akan menjadi sasaran empuk bagi Negara Asean lain untuk memasarkan produk-produknya.Indonesia saat ini menjadi pasar yang sangat menggiurkan dibandingkan dengannegara lain. Buktinya, sekitar 40 persen konsumen kelas menengah di kawasan Asia tenggara ada di Indonesia. Selain itu, produk domestik bruto (PDB) Asean juga 25 persennya berasal dari Indonesia.Nah apa yang akan terjadi jika produk dalam negeri tidak siap dalam persaingan ini, maka dipastikan Indonesia hanya akan menjadi pasar dan penonton bagi negara lain.Presiden Jokowi pun dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa Indonesia harus siap menghadapi ini. Siaptidak siap pokoknya kita harus bisa, tidak ada cara lain kita harus optimis kata Presiden.Dengan berlakunya MEA ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia, competition risk akan muncul dengan banyaknya produk impor yang akan mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri, tetapi ini juga merupakan peluang bagi para pengusaha dan pekerja Indonesia untuk ekspansi ke Negara lain.Hal yang menarik pula kita cermati adalah adanya kecenderungan masyarakat Indonesia untuk lebih menyukai hal hal bernuansa luar negeri, ambil contoh sederhana kita setiap hari disuguhkan dengan film Korea, India, Thailand dan yang booming baru-baru ini film dari Turki. Tapi tahukah kita bahwa ini sebenarnya juga salah satu strategi marketing bagi Negara lain untuk mempromosikan produknya.Maka tak heran kita bisa saksikan anak muda kita yang merasa lebih ‘pede’ jika memakai barang impor dari pada produk lokal buatan anak bangsa sendiri. Ini bukan masalah kualitas, tetapi lebih ke masalah selera. Contoh lain buah dan sayuran impor dari Malaysia dan Vietnam yang semakin banyak meramaikan pasar-pasar swalayan kita, bahkan sudah sampaike pedagang kaki lima.Tetapi ada hal lain yang menarik menurut pengamatan sebagian pengamat, bahwa selain produk yang perlu dikhawatirkan juga adalah membanjirnya tenaga kerja asing yang akan masuk ke Indonesia.Berbagai profesi profesional seperti engineer, pengacara, chef, akuntan, dokter,perawat semua akan bebas menginjakkan kakinya di Indonesia, demi mengisi pos pos pekerjaan yang tersedia di Indonesia. Tentu saja tenaga kerja lokal akan bersaing ketat dengan tenaga kerja asing nantinya.Langkah pemberlakuan MEA ini akan diapresiasi dengan baik oleh para wirausahawan karena mereka akan memperoleh banyak stok tenaga kerja yang mumpuni di bidangnya, jadi mereka tinggal pilih saja. Namun satu hal yang harus diperhatikan adalah perusahaan-perusahaan asing yang memang selama ini sudah mulai mendatangkan tenaga kerja sendiri dari negaranya seperti halnya Tiongkok. Dilain karena upah mungkin masalah kultur dan bahasa juga menjadikan mereka akan lebih memilih pekerja dari negaranya sendiri.Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasaldari Malaysia, Singapura, dan Thailand serta fondasi industri yang bagi Indonesia sendiri membuat Indonesia masih berada pada peringkat keempat di Asean.Jauh hari sebelumnya Negara-negara lain telah mempersiapkan diri untuk masuk indonesia. Bahkan saya pernah dengar dari teman bahwa di Malaysia sekarang ada sejumlah kursus untuk belajar bahasa Indonesia. Pengajarnya adalah para mahasiswa Indonesia yang sementara melanjutkan magister maupun doktoral di negara Jiran tersebut. Kursus ini tentunya untuk persiapan para calon tenaga kerja yang ingin mengadu nasib di Negara kita nantinya. Ini juga menandakan kalau mereka telah sangat siap kerja di Indonesia dengan persiapan yang boleh dikata sudah sangat matang.Salah satu hal yang harus menjadi perhatian bagi pemerintah dan pekerja Indonesia adalah sertifikasi dan standar kompetensi yang belum merata untuk berbagai profesi, begitu pula dengan pernguasaan bahasa untuk pekerja kita. Dan ini harus ditemukan jalan keluar secepatnya kalau ingin sukses berkompetisi.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2015, jumlah angkatan kerja Indonesia sebanyak 122,4 juta orang. Jumlah orang yang bekerja sebanyak 114,82juta. Sementara jumlah pengangguran sebanyak 7,56 juta orang. Kita berharap angka ini jangan sampai angka pengangguran ini justru semakin bertambah karena berlakunya MEA tahun depan.Salah satu cara yang bisa dilakukan agar Indonesia benar-benar siap menghadapi MEA adalah dengan meningkatkan daya saing di berbagai bidang. Selain itu juga harus ditingkatkan kualitas pelatihan guna meningkatkan kompetensi dan daya saing SDM Indonesia.Meskipun peran dominan dalam meningkatkan kualitas menjadi milik pemerintah, bukan berarti seluruh tanggung jawab berada di tangan pemerintah. Justru sebaliknya, perlu kesadaran bahwa efek dari MEA akan dirasakan langsung oleh masyarakat dan tanggung jawab untuk berpartisipasi dan mempersiapkan diri menjelang 2016 menjadi milik bersama. Olehnya itu mari siapkan diri menghadapi persaingan tahun depan. MEA siapa takut?Salam
Pemuda Zaman Dahulu dan Masa Kini
Apakah yang kalian ketahui ada apa sebenarnya pada tanggal 28 Oktober 1928? Kita semua wajib tahu bahwa pada tanggal tersebut adalah hari sumpah pemuda. Bukan sembarang sumpah pemuda, tetapi merupakan hari diucapkannya sumpah oleh para pemuda saat itu yang isinya menyatakan bahwa mereka bersumpah untuk mengakui Bertumpah darah satu, Berbangsa satu, dan Bertanah Air satu, yaitu Indonesia.Janji atau sumpah pemuda berbunyi“KAMI, PUTERA DAN PUTERI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH INDONESIA. KAMI, PUTERA DAN PUTERI INDONESIA MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA. KAMI, PUTERA DAN PUTERI INDONESIA MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA”.Mungkin kalimat sumpah pemuda tersebut sekarang mudah diucapkan oleh kita, dan mungkin sebagian orang sudah menganggap bahwa sumpah pemuda bukanlah hal besar. Tetapi, tahukah kalian betapa sulitnya pemuda saat itu untuk membuat sumpah pemuda untukmenyatukan semua pemuda dari berbagai sukudan budaya yang berbeda-beda? Betapa penuh perjuangannya pemuda saat itu untuk menyatukan semua pemuda Indonesia.Sekarang, cobalah kita amati pemuda masa kinihanya sebagian kecil saja yang benar-benar mengindahkan sumpah pemuda sekarang ini. Apa yang kalian ketahui tentang pemuda? Apakah pemuda adalah orang yang berumur antara 15-25 tahun? Ataukah pemuda adalah orang yang terlihat sudah besar dan dewasa? Secara umum, definisi pemuda setidaknya memiliki 3 kategori yang menyangkut batasan usia, sifat atau karakter, dan tujuan dari aktifitaskepemudaan.Secara biologis, pemuda adalah orang yang berusia antara 15-30 tahun. Dan arti sebenarnyapemuda yaitu calon penerus bangsa, kader keluarga, kader masyarakat, dan juga kader bangsa. Dan di tangan pemuda-lah nasib bangsa kita ditentukan. Seandainya pemuda saat ini memiliki kemampuan dan semangat untuk merealisasikan sumpah pemuda, sudah pasti bangsa kita sudah menjadi bangsa termakmur di dunia.Marilah sejenak kita mengingat perjuangan pemuda zaman dulu, para pemuda memiliki karya-karya besar yang saat ini mulai rusak karena era globalisasi. Kala itu, pemuda Indonesia bersemangat sekali terhadap karyanya, yaitukemerdekaan Republik Indonesia.Itulah negara yang saat ini kita tempati, rumah kita semua. Rumah yang senantiasa di rawat dan di jaga supaya lebih indah.Pentingnya peran pemuda Indonesia untuk berlaku jujur, disiplin, dan memakai hati dalam bekerja. Pemuda Indonesai adalah generasi penerus yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Dalam masalah sosial pun pemuda Indonesia sangat dibutuhkan, terutama masalah sosial seperti kemiskinan. Seharusnyasebagai pemuda, mampu menjadi contoh atau momok agar memberikan contoh atau saran untuk menyelesaikan masalah ini.Kembali kepada peran pemuda, pada zaman dulu di setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, acara adat-istiadat, para pemuda pasti berperan aktif dalam kegiatan tersebut. Tapi sekarang para pemuda seolah-olah tidak peduli lagi dengan acara semacam itu. Padahal, hal tersebut adalah warisan nenek moyang kita dikala tokoh-tokoh budaya sudah tidak ada.Banyak pemuda masa kini lebih senang menghabiskan waktu dengan hura-hura, foya-foya dan kegiatan lainnya yang hanya bertujuan untuk mencari kepuasan batin sendirisaja. Semakin berkembang zaman, maka semakin maju pula perkembangan teknologinya. Peradaban dunia saat ini-pun semakin canggih, contohnya adalah sarana untuk berkomunikasi. Pemuda masa kini lebih sering aktif dan menyukai dunia maya dibandingkan dunia nyata.Seperti contohnya : facebook, twitter, instagram, dll adalah media yang marak digemari oleh pemuda masa kini. Mereka lebih mementingkan dunia maya daripada dunia nyata. Ditambah, saat ini banyak pula gadget-gadget (sarana komunikasi) bermunculan dengan model dan fungsi yang beragam. Membuat masyarakat masa kini menjadi masyarakat yang konsumtif. Berbeda dengan pemuda zaman dahulu yang lebih sering melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat atau persetujuan untuk membenahi masyarakatnya.Sebagai pemuda, maka harus aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Kehadiran pemuda sangat ditunggu-tunggu dan di nantikan dalam masyarakat untuk membangun bangsa. Lantas,apa yang seharusnya dilakukanoleh para pemuda masa kini?. Pada dasarnya, pemuda meiliki semangat untuk berubah dan memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Sebagai pemuda, kita seharusnya belajar mengenali karakter dan potensi yang ada pada diri sendiri lalu dikembangakan. Dan juga turut mengambil bagian dari pembangunan negara sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing.Tetapi, sekarang pun banyak pemuda yang mulai mengharumkan nama bangsa dengan prestasi-prestasinya di berbagai negara. Kita perlu mendukung hal tersebut demi memajukanbangsa Indonesia. Saya pikir, itu merupakan halpositif yang harus diacungkan jempol dan juga sebagai motivasi kita untuk berpikir lebih maju lagi untuk kedepannya.Salah satu bentuk positif lainnya adalah lahirnya organisasi pemuda yang bersifat positif. Dengan adanya organisasi tersebut, para pemuda lebih mudah bersosialisasi dengan masyarakat, demi mewujudkan visi dan misi yang positif pula. Dan juga dengan adanya organisasi para pemuda, mencegah para pemuda dari kegiatan-kegiatan yang negatif. Masyarakat-pun harus mendukung setiap kegiatan pemuda yang bersifat positif.Menurut anda, apakah perlu sosok pemimpin pemuda untuk terjun ke dunia politik? Ya, sosokpemuda sangat diperlukan di dalam dunia politik. Agar pemuda paham dan tahu bagaimana terjangnya dunia politik masa kini. Sebagai pemuda, wajib mengetahui dunia politik. Karena mau tidak mau, pemudalah yang akan meneruskan semua urusan dunia politik. Namun harus tetap mengedepankan rasa idealisme, dan mengutamakan nilai-nilai kebaikan.Pada intinya, pemuda adalah generasi penerus bangsa yang harus siap melanjutkan kepemimpinan yang saat ini masih berlangsung, karena sudah menjadi hukum alam jika generasi dalam kehidupan pasti terjadi. Pemuda harus berpikir jauh kedepan dan mempersiapkan gagasan jangka panjang yang pasti akan ditanggung. Karena, nanti pemuda-lah yang akan berperan besar dalam menjalankan sejumlah urusan seperti politik, ekonomi, birokrasi, dan sebagainya.Sebagai pemuda semestinya memilih untuk menggeluti dan memilih fokus dalam bidang-bidang tertentu. Dan ntuk lingkungan dan lembaga yang bisa dijadikan sebagai fasilitas penggali potensi, bisa melalui lembaga organisasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Pemuda harus bisa membuat terobosan baru yang lebih positif dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar.“Beri aku seribu orangtua, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia!”.Mungkin seperti itulah sepenggal pidato dari Soekarno, presiden pertama RI yang sering kita ingat. Dari situ kita bisa pahami, perbandingan dari seribu dan sepuluh bukanlahperbandingan yang sedikit. Namun tidak berarti orangtua tidak memiliki andil apapun dalam pergerakan bangsa ini, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pemuda memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk membangun bangsa tercinta ini. Itu adalah salah satu bentuk optimisme yang Bapak Soekarno rasakan.Pemuda sebagai salah satu penggerak bangsa ini memiliki beberapa kelebihan, diantaranya yaitu pertama, kelebihan dari segi fisik dan psikologi. Pemuda memiliki kekuatan fisik yang prima dan lebih energik apabila dibandingkan orangtua. Dan kelebihan selanjutnya yaitu semangat pemuda yang membara. Semangat untuk bergerak dan berubah. Dan masa muda adalah masa subur idealisme. Banyak peristiwa sejarah lahir karena idealisme masa muda.Sudah saatnya pemuda menempatkan diri sebagai agen sekaligus pemimpin perubahan. Pemuda harus memperjuangkan cita-cita bangsa melalui perjuangannya. Pemuda harus bersatu dalam kepentingan yang sama (common interest). Mengembalikan semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan pemuda akan mengangkat moral perjuangan enerasi muda.Diposkan olehVallenita anshori
Langganan:
Postingan (Atom)